Group's posts with tag: teater

What are tags? You can give your posts a "tag", which is like a keyword. Tags help you find content which has something in common. You can assign as many tags as you wish to each post.
View posts by people in your network with tag teater
Blog EntryAlong with the Curtain ClosureMay 29, '07 1:43 AM
by dmitri for everyone

'What to do? What to do?'

Kira-kira demikian tanya Lev Tolstoy dalam bukunya Anna Karenina (sekarang tersedia edisi bahasa Indonesia di toko-toko buku Jakarta), tentang dilema hidup yang menimpa Stepan Oblonskiy, lelaki yang memiliki senyum yang bermasalah.

Dan ternyata, ada parallel universe antara pedalaman Rusia jaman baheula dengan Jakarta abad 21. Bagi anda yang sudah bosan dengan SMS berisi undangan clubbing, rampung menonton semua film di bioskop atau DVD, 'neg ndelok tempe tahu' restoran favorit, atau bikinan istri, suami, anak, orang tua, anak buah atupun atasan anda, tentunya pertanyaan anda berikutnya tidak akan jauh dari kata-kata yang sama: 'What to do? What to do?' di Jakarta?

Tepat! Pada intinya kita semua sama saja. Haus tontonan baru. Semoga apa yang sudah disajikan EKI Dance Company bisa menjadi alternatif bagi anda yang menonton. Dan semoga, orang-orang EKI masih cukup makan cukup tidur untuk lanjut mengerjakan rencana pementasan berikutnya.

Tentunya sulit untuk memenuhi selera setiap individu. Pemred blog MK pun mengakui, dirinya sudah reservasi jatah komplain (dan jatah apresiasi) yang pastinya akan memenuhi box feed-back di kantor EKI di jalan Padang 32. Dan lewat artikel kali ini, Redaksi blog MK yang juga ditugasi untuk menghitung dan membuat statistik feed-back ingin mengingatkan anda yang sudah nonton untuk mengisi dan mengirim questionaire yang telah disebarkan selama pertunjukan ke fax nomor 021-8313029.

Mumpung masih membahas topik yang sama, Pemred blog MK mengambil inisiatif ingin mempublikasi sebuah masukan yang menginspirasi.

I think this the best medium in achieving understanding among the Chinese, mixed Chinese, Indonesian culture. Your ability to laugh and portray the 'typicalities' of Chinese in Indonesia is admirable. I dont think you should loose heart at not being able to perform. Stay together, do not let those who know of you forget EKI. Sooner or later you will perform again, I find it quite professional. So many young people with this pride of their multiculture is extraordinary. When I have settled down, I promise to look for all of you gifted *scrible* (can't figure out this one word). Dont lose heart, lets continue to get support. You need a strong non-conformist spokesperson.

I enjoyed the show. I couldn't answer question #9 as presented. It doesnt do you justice.

Well, tepatnya budaya Cina dan Jawa dipadukan dalam suasana Indonesia kontemporer. Siapa pun yang menulis masukan ini, redaksi blog MK terharu. Makanya, sebelum questionaire ini masuk ke dalam mesin giling statistik dan hanyut bersama jawaban questionaire lainnya, kami ingin menikmati 'momen narsis' ini. Anda yang puas sama MK boleh ikutan menikmati. Yang belum puas (sekali lagi) boleh kirim aja questionairenya.

In case belum puas sama jawaban di questionaire, silahkan reply artikel ini.

Wish us luck with the next show!


Blog EntryPenentuan Sikap Lewat Artistik VisualMay 14, '07 10:23 PM
by dmitri for everyone

Untuk produksi musikal Miss Kadaluwarsa [MK], Samuel Wattimena dipercaya sebagai Penata Artistik dan Penata Kostum, dua fungsi kreatif yang sengaja digabungkan. “Karena dipegang oleh satu orang, proses artistiknya lebih singkat karena sudah ‘nyambung’ idenya antara artistik panggung dan baju yang dipakai,” ungkap Sammy tentang merger kedua fungsi itu.

 

“Fungsi bagian artistik di MK ini sebetulnya lebih pada mendandani atau membingkai sebuah karya teater tari. Jadi yang dihadirkan adalah dramatisasi dari pertunjukan teater dan tari itu. Tapi ruang prerogatif tetap ada di sutradara pada teater dan koreografer pada tari,” jelas Sammy menjelaskan fungsi dirinya dalam tim produksi MK.

 

Tata panggung dan kostum akan mengangkat sudut-sudut yang berbeda dari apa yang dikarakterisasikan oleh pemain, maupun musik dan tarian. Namun setiap unsur itu secara bersamaan harus keukeuh mempromosikan humor dan tragedi yang di plot saling berebut kendali cerita, sesuai naskahnya.

 

Ada pendekatan berbeda antara acting, musik dan tari dengan artistik panggung maupun kostum. Tiga komponen yang disebut pertama sangat dipengaruhi fleksibilitas manusianya. Sehingga mampu mengikuti dinamika irama dialog sesuai perubahan tempo dan emosi naskah.

 

Kalau set artistik yang membingkai panggung dan mewarnai pemain adalah benda yang tidak bisa menyesuaikan diri dengan nada-nada pada naskah. Kemampuan sebuah komposisi bentuk, tekstur maupun warna rancangan Samuel hanya bisa mengikuti perubahan yang terjadi antara satu scene dengan lainnya, tapi tidak dengan perubahan di dalam salah satu scene. Untuk lebih jelasnya, kalau Narcissi bisa nangis dan ketawa dalam satu scene yang sama, kostum yang dipakainya tidak bisa mengikuti. Jadi pakaiannya harus bisa mengambil sikap yang lebih tegas, sesuai pesan yang disampaikan pada scene tersebut.

 

Makanya Sammy cepat merangkum makna, memilih sisi karakter yang ingin ditampilkan dari masing-masing scene/tokoh sesuai interpretasi yang sesuai rencana sutradara dan koreografer, lalu dikomunikasikan secara visual pada penonton lewat artistik panggung dan kostum pemain. Dia menjadi pencetus mission statement setiap adegan MK, sementara acting, musik dan tarian sebagai penjabarannya.

 

Untuk itu Sammy akan mencoba untuk menginterpretasikan makna cerita dengan cara-cara yang bisa melahirkan wawasan-wawasan baru. Contohnya, salah satu scene dimana Narcissi ingin melupakan masa kecilnya. ”Bagian-bagian set pada scene itu sengaja saya buat berupa kerangka-kerangka yang tidak utuh, untuk menggambarkan potongan-potongan kenangan yang tersisa dan tak tampak jelas.  Seperti Narcissi, banyak orang lain juga yang tak mau mengingat, bahkan berkeras ingin mencopot, masa lalunya.” Demikianlah kita dibantu untuk menerima pesan lewat sikap yang diambil Samuel, sebuah wawasan baru tentang figure seorang Narcissi.

 

Reportase: Frisca Saputra


Blog EntryMomen Magis: Love at First SightMay 2, '07 9:33 AM
by dmitri for everyone

Pada kenyataannya, kita tidak selalu menilai orang secara tulus tanpa terlebih dulu membuat kesan pertama kita terhadap orang itu. Buku-buku self improvement berklise ria mengingatkan kita kalau yang namanya pakaian itu penting, karena orang lain umumnya terpengaruh first impression, atau kesan pertama, dalam menilai sesama. Dan yang pertama dilihat biasanya sih cara berpakaian.

 

Kita bisa saja mengaku sebagai manusia sempurna yang tidak pernah menilai sampul buku orang lain. Tapi realita cinta dalam kehidupan rock ‘n roll metropolitan tidak bisa bohong sama naluri sendiri: bahwa yang namanya penampilan orang senantiasa mempengaruhi penilaian kita.

 

Namanya juga manusia. Kalau sudah mutih, puasa, semedi dan lepas dari segala nafsu duniawi, barulah kita mampu alert bertahun-tahun sama yang namanya fatalisme naluri harafiah. Kalau belum sih, selempak putih bermerek yang tersingkap celana jeans kedodoran bisa bikin kita pasang tampang judes seharian. Coba ketemu bos di kantor yang dandan begitu? Atasan sok asik seperti apapun bakal sulit kita anggap serius. Pemenang Nobel Prize sekalipun.

 

Nah, sebagai penonton Miss Kadaluwarsa [MK] kita tidak perlu mengerut dahi supaya bisa mengerti pesan-pesan rumit dibelakang sampul buku yang tebal. Lewat penataan artistik dan kostum Samuel Wattimena, kita diajak untuk relax, bebas membulatkan wajah yang seharian panjang ditarik sendi stress kemacetan Jakarta. Tidak perlu takut dituduh berpikiran macam-macam karena spontan membunyikan priwit pramuka saat melihat baju sexy yang dipakai Shiva.

 

Memang ada berbagai cara menikmati tontonan teater. Seperti laut, bisa dinikmati dari pantai, snorkelling di laut dangkal, scuba diving atau yachting di perairan lebih dalam. Untuk yang terakhir ini Sammy punya penjelasan sendiri, “teater/tari yang lebih bersifat klasik di mana diciptakan banyak ilusi-ilusi di atas panggung dengan set yang sangat minimal dan penonton ’dituntut’ untuk melihat apa yang ada pada imajinasi yang diciptakan pemain.”

 

Sammy mengaku kalau pertunjukan MK sifatnya populer. Penontonnya cenderung tidak mau berlelah-lelah membayangkan penggambaran suasana. Makanya dekorasi panggung dan kostum menjadi penting. Karena ”akan mempermudah penonton memahami pesan yang ada.”

”Seseorang yang memakai baju sederhana tak selalu berarti ia tidak berbobot. Begitupun sebaliknya,” ungkap Sammy dengan ideal. ”Populer saya artikan menjadi lebih mudah menyampaikan pesan, dapat menyebar dan diterima oleh lebih banyak orang sehingga menjadi lebih fungsional. Ada kecenderungan di sekitar kita mengenai pendidikan, di mana pendidikan hanya bisa didapat dengan cara membaca buku. Padahal ada berbagai cara lain untuk menggali ilmu. Bisa dari melihat alam, berjalan-jalan, dsb. Demikian juga dengan pemahaman bahwa sebuah pesan serius harus disampaikan dengan serius, dengan muka yang panjang.  Seolah-olah dengan begitu, pesan itu pasti sampai ke si penerima dengan benar.”

 

Sebenarnya, tidak ada salahnya menyukai kedangkalan. Yang dalam-dalam biasanya perlu keahlian khusus untuk dinikmati. Seperti menikmati laut lewat kegiatan menyelam, kalau sampai lupa daratan bisa berhalusinasi sendiri – narcosis [kayaknya semacam narcisis, begitu].

 

Samuel Wattimena punya pengalaman segudang untuk urusan perancangan busana, baik yang populer maupun yang niche. Mungkin dia tidak mengatakannya sama sekali, tapi sebenarnya kreatifitas Sammy lah yang akan mempengaruhi kesan pertama kita saat menonton MK.

 

Reportase: Frisca Saputra


Blog EntryPanduan Menikmati TontonanMay 2, '07 4:00 AM
by dmitri for everyone

Pada awalnya sebuah pertunjukan teater dimulai dari keinginan orang untuk mengerti sesuatu yang bukan manusiawi. Lewat personifikasi hal-hal yang non-manusia, teater bisa memanusiakan roh-roh, binatang, dewa-dewi, sampai fenomena alam sekalian.

Selanjutnya, teater menjadi tempat manusia menilai diri sendiri. Secara umum, kita menilai sifat-sifat kita yang diwakili tokoh-tokoh di atas panggung. Dan secara personal, kita juga bisa mengenali cara kita bereaksi terhadap emosi yang muncul di panggung, jalan cerita, set audio visual panggung, musik, dan atmosfer di sekeliling kita.

 

Tidak banyak kegiatan yang pengalamannya sama mengesankan seperti nonton teater. Anda harus bisa merasakan detik demi detik yang tak terulangkan. Mulai dari masuk ruangan, duduk dengan kopi dalam paper cup di satu genggaman tangan, buku acara di genggaman satunya lagi, sambil menunggu tirai panggung tersingkap. Sulit bagi kita untuk lanjut menikmati kontras terang gelap panggung, bising sunyi musik dan tarian, maupun ekspresi dialog pemain, tanpa mengosongkan pikiran kita sebelumnya. Memang orang yang naik panggung bukan dukun shaman pemimpin api unggun di tengah hutan. Tapi kalau mau enjoy secara maksimal kita harus sama-sama mengijinkan mereka menghipnotis kita; semampu mereka.

Perhatikan contoh mata hipnotik seorang shaman pada foto disebelah kiri. Mata seorang performer sejati, Dalang Teredan Sujiwo Tejo.


Kemampuan menentukan suksesnya sebuah pementasan. Panggung kemudian berubah menjadi satu benda hidup penuh kesalahan, improvisasi, berikut kegagalan yang dicampuri berbagai emosi intens. Tidak terbatas pada kualitas director, actor ataupun tim teknis saja, entusiasme penonton ikut menentukan kesuksesan sebuah pergelaran teater.

 

Makanya, penonton pun harus bisa berekspresi sesuai jalan cerita. Tapi tidak semua bunyi itu menambah serunya tontonan. Misalnya bunyi handphone, batuk atau cegukan. Hindari membawa tas plastik ke dalam ruangan teater. Sumber suara paling spontan biasanya datang dari anak kecil dan bayi. Tentunya, mereka tidak harus melewati cobaan yang sama seperti orang dewasa, jadi enggak perlu diajak nonton.

 

Sebagai tamu di pertunjukan, seharusnya kita bisa memakai pakaian sesuka hati kita. Tapi yang namanya nonton bareng-bareng juga berarti memikirkan reaksi sesama penonton. Mungkin anda mengajak ibunda ke musikal MK dan dia datang memakai konde ukuran sensasional. Dampaknya akan sama sensasionalnya. Jadi, baiknya cara berpakaian tetap loyal sama individualisme kita tanpa berusaha menjadi bintang tamu yang gagal naik panggung teater. Kecuali anda hadir di Gala Premiere. Disitu semua orang wajib tampil, karena red carpet yang digelar sampai tempat parkir juga menjadi bagian dari panggung.

 

Tampil atau tidak, pastinya anda harus tepat waktu. Boleh hadir lengkap dengan syal bulu warna pink favorit, tapi kalau anda telat masuk, itu namanya kebangetan. Perhitungkanlah waktu perjalanan plus parkir yang dibutuhkan. Kalau ada meeting yang tertunda, ajak rekan meeting anda untuk ikut nonton. Bilang, untuk membuka wawasan dan tidak ketinggalan jaman. Bayarin kalau perlu, sebagai tanda peduli. Kalau pun terlambat, ada baiknya anda tidak heboh mencari tempat duduk gelap-gelap. Lebih baik berdiri di dekat pintu sambil menunggu dituntun panitia, atau waktu istirahat.


Blog EntryMission: PhantomApr 9, '07 12:04 PM
by dmitri for everyone


Uli Herdinandyah, Aiko Senosoenoto dan Alim Sudio ke Singapura nonton Phantom of the Opera. Tiga anggota tim penulis naskah Miss Kadaluwarsa [MK] diproyeksikan menjalani misi pengintaian salah satu play tersukses di dunia dibawah codename Mission: Phantom.

 

Ketiga insan penulis naskah MK ini dibebani tugas pengintaian sebuah pergelaran seni yang disinyalir dapat menyaingi gerakan revolusi seni Jakarta yang dipelopori EKI Dance Company.

 

EKI, singkatan dari Eksotika Karmawibhangga Indonesia, tentunya harus mengambil tindakan-tindakan prefentif terhadap bahaya laten Gerakan Seni Negeri Tetangga (GSNT), yang dicurigai semaikin hari semakin banyak menarik minat penonton dari Indonesia.

 

“Singapura dulu kan tempat pelarian berbelanja dan berobat, sekarang jadi tempat pelarian seni buat orang Indonesia,” ungkap Media Gossip Officer EKI, Iwan Seti. “Hal ini tidak baik bagi negeri tercinta kita, karena semakin hari semakin banyak uang yang dihasilkan di sini, tetapi dihabiskan di negeri tetangga. Kita sudah mampu mengantisipasi masalah perbelanjaan dengan pembangunan berbagai mal-mal yang harga barang elektronik maupun produk bermerek lainnya sudah bisa menyaingi Singapura. Tetapi sekarang, kita dihadapi dengan sebuah langkah strategis pemerintah Singapura dalam percaturan komersil multilateral, yang terus terang saja, saya sebagai orang seni di EKI sama sekali tidak bisa terima,” papar Iwan dengan muka sedih, penuh keluh kesah menatapi sepatunya sendiri.

 

“Sepatu baru, mas?” demikian tanya beberapa rekan wartawan dalam upaya tulus mereka menghibur hati lelaki jangkung berkaca mata yang selama ini telah banyak membantu mereka mendapatkan bahan-bahan mentah Infotainment. Bahkan para artis ibukota yang kebetulan berlalu lalang di kantor EKI di bilangan Manggarai itu ikut bersimpati. “Penyebar gossip atau tidak, yang pasti kalau untuk urusan nasional, kita masih punya toleransi tinggi,” ungkap salah satu artis yang namanya keberatan untuk disebut.

 

Iwan, dalam konferensi pers dadakan tersebut melanjutkan bahwa sebenarnya kenyataan ini tidak perlu diratapi, karena EKI sudah memiliki jawabannya. Dalam hal ini, Divisi Counter Gossip EKI, yang kebetulan dipimpin pakar Infotainment Indonesia, yaitu Uli Herdinansyah, sudah menyiapkan rencana pengamanan demi kesuksesan pementasan MK.

 

“Tunggu saja tanggal mainnya. Pementasan Miss Kadaluarsa akan menjadi yang terheboh dalam sejarah,” demikian janji Uli, sambil memasukkan sejumlah brosur MK kedalam tas koper yang akan dibawanya ke Singapura. Uli dibantu dengan Alim pun tidak lupa memamerkan topeng dan pakaian serba hitam yang akan mereka pakai saat menonton Phantom of the Opera, sebuah karya yang sangat mereka gemari.

 

Tidak diragukan lagi, Miss Kadaluarsa memang ditulis oleh pakar-pakar penulisan naskah Indonesia berpengalaman dan sangat profesional.


Miss Kadaluwarsa

© 2008 Multiply, Inc.    About · Blog · Terms · Privacy · Corp Info · Contact Us · Help