Group's posts with tag: cast
Musikal Miss Kadaluwarsa sudah mendekati satu tahun masa persiapan. Kira-kira Mei/Juni tahun lalu, setelah rampung dengan produksi Freakin’ Crazy You, EKI mulai mencari bahan pembicaraan baru yang pantas untuk didramatisir di depan publik.
Tema modern versus tradisional sudah menjadi sesuatu yang umum, universal dan selalu relevan. Soalnya selama kehidupan masih playing-on, yang muda akan menjadi tua dan apa yang sekarang modern, suatu saat nanti akan menjadi kuno. Tinggal kita suit-suitan soal definisi modern/kadaluwarsa untuk menentukan mana yang masih actual dan mana yang sudah lewat.
Kebetulan karena niatnya mau bikin drama musikal, maka dipilih lah tema-tema seputar karakter yang drama queen. MK pun akhirnya bercerita tentang perempuan yang berpendidikan dan berpenampilan modern, tetapi masih terkungkung pikiran-pikiran lama.
Tokoh Narcissi akhirnya ketiban sial harus memiliki kepribadian yang secara sepihak dicap ‘Kadaluwarsa’ sama tim penulis naskah. Menurut Takako Leen, peran yang dimainkannya itu “hidup dalam kepalsuan. Dia mau membuat dirinya sempurna. Dia malu punya keluarga miskin makanya dia mau lari dari kenyataan itu.”
Tata banyak belajar dari karakter Narcissi. “gak ada yang sempurna di dunia ini, malah kadang dari ketidak sempurnaan kita jadi punya banyak teman, jadi bisa saling memperbaiki. Dengan begitu kita jadi butuh orang lain.”
Peran Narcissi yang jaim itu memberi tantangan tersendiri buat Tata. “Yang paling susah dilakukan adalah menahan emosi waktu beracting sebagai Narcissi. Karena tokoh ini tuh punya karakter yang sangat kaku, berbicara terpola dan teratur, semua tindakan terlihat anggun, sampai posisi badanpun harus tegak terus.”
Dalam kehidupannya sehari-hari, Takako juga dihadapi perjuangan meraih kesempurnaan. Bedanya sama Narcissi, Tata enggak segitu-gitu amat. Sebagai penari Takako juga harus mengikuti aturan dalam hal menjaga dan merawat tubuh supaya bisa terus menari. Soalnya kalau tidak hati-hati, justru bisa jadi kadaluwarsa.
”Saya gak bisa makan, minum atau bertingkah laku yang sama seperti orang-orang kebanyakan. Contohnya saja, seorang penari tidak boleh merokok karena bisa mengganggu fungsi pernafasan. Dan tidak boleh melakukan olahraga seperti sepak bola atau basket atau tenis misalnya, karena kalau waktu melakukan olahraga itu kita gak hati-hati dan keseleo akut, wah, tamatlah...”
EKI Production juga punya segudang cerita Battle for Perfection mereka. Tapi mungkin kesempurnaan itu lebih dititik beratkan pada bobot cerita yang berkualitas, yang dijabarkan lewat penulisan naskah yang matang. Urusan realisasi di atas panggung EKI memilih untuk rendah hati dan realistis, yaitu tampil lebih populer. Maksudnya supaya pesan-pesan yang terkandung bisa dimengerti mayoritas penonton.
Reportase: Wirya Kartasasmita
Aida Nurmala bukan sebuah nama yang sering disebut-sebut, dan dia enggak punya muka yang nongol dimana-mana, tapi banyak orang [terutama di Jakarta] kenal sama dia.
“Ribet,” adalah jawaban yang diterima redaksi blog MK ketika berbasa-basi menanyakan kabar saat bertemu Aida, senin kemarin. “Gua lagi pindahan, pembantu minta pulang, anak gua rewel,” keluhnya sambil mengibas sejepret kertas A4 berisi naskah MK yang masih harus dihafalin itu. Tapi ketika dikorek-korek, perempuan 34 tahun yang pernah kerja di Hotel Hilton dan Shangrila ini mengaku beruntung suaminya ikut membantu.
Aida dan Yudha Budhisurya, suaminya, dikenal sebagai penguasa dunia malam. Sementara Aida asik sebagai director perusahaan event organiser sekaligus juga fashion consultant, Yudha menjalankan salah satu nightclub terbaik Jakarta. Lengkap deh, sepasang pengusaha nighlife Indonesia.
Sebagai orang yang mengerti fashion, apalagi kalau tampil di event tertentu, pembawaan sehari-hari Aida tidak selalu megah gaya. Beberapa kali bertemu dengan ibu ini pakaiannya casual dan simple. Mengingatkan kita sama anak remaja biasa. Coba ngobrol bareng sama dia sebentar aja. Aida bisa jadi pendengar yang baik, ataupun jadi pembicara berbobot. Terserah anda maunya dia jadi apa.
Kalau jadi Shiva?
Kebelutalan senin kemarin EKI mengadakan run through, semacam GR tapi lebih culun lah. Gunanya running session ini untuk melihat sejauh apa naskah sudah bisa direalisasi. Termasuk acting yang dimainkan pemeran. Peran Shiva yang kali ini dimainkan Aida mulai terlihat matang, dan ternyata, menawarkan flavour yang berbeda dari Shiva yang diperankan Sarah.
Aida punya ciri khasnya sendiri waktu memainkan lakon seorang perempuan dari keluarga kaya yang kekurangan perhatian orang tuanya, sehingga berdampak pada caranya mencintai. Kesannya graceful. Dan kolaborasinya dengan Uli yang memerankan Fauzy juga sangat baik.
Redaksi blog MK terus terang merekomendasikan anda untuk menonton MK dua kali. Satu kali nonton pementasan yang ada Sarahnya, satu lagu nonton yang ada Aida Nurmala. Sejauh ini acting keduanya menjanjikan, dan keduanya memberikan tontonan berbeda yang patut dilihat.
Ada banyak hal yang harus dipersiapkan aktor/aktris sebelum naik panggung. Sejauh ini cast Miss Kadaluwarsa [MK] sudah melewati beberapa jadwal latihan, termasuk latihan tari dan nyanyi, serta kegiatan photo session untuk mendukung promosi musikal MK.
Photo session Sarah diadakan di sebuah studio di pedalaman Fatmawati, di tengah jaringan jalan-jalan bernama sama yang dibedakan melalui angka-angka serial saja. Disana ada sebuah rumah yang dijadikan studio oleh salah seorang fotografer ternama Indonesia, Firman Ichsan.
Jalanan dalam kompleks perumahan di daerah selatan Jakarta itu tipikal memberi kesan berliku, dengan besi portal dan gubuk ronda di persimpangan, serta rumah-rumah berarsitektur tahun delapan puluhan di kiri-kanan jalan, sesekali didampingi tetangga yang sudah sempat renovasi. Kalau ditambah padatnya lalu lintas jalan Fatmawati, perjalanan menuju studio Firman itu rasanya berlebih sekali. Ngapain juga?
Studio Firman banyak menghasilkan karya-karya magis. Magisnya bukan karena Firman bisa menyulap sesuatu yang jelek jadi bagus [mungkin itu juga], tetapi karena maestro yang satu ini bisa dipegang untuk untuk urusan tidak mencelakakan object yang bagus. Selain itu juga, EKI butuh fotografer yang bisa menangkap ekspresi tertentu yang memang harus keluar, supaya karakter tokoh-tokoh MK bisa kelihatan. Apalagi kalau foto-foto itu bakal mengisi poster.
Sarah saat pemotretan terus melakoni muka centil judesnya Shiva, peran yang bikin dia semangat ikut musikal MK. Sarah mengilustrasikan karakter yang dimainkannya itu dengan sederhana: “Fiery.”
Firman rajin meminta object pemotretannya itu untuk mengulang beberapa pose, dan Sarah yang rela-rela saja dengan tekun menghitung jumlah jepretan yang diambil. Ekspresi-ekspresi Shiva, yang menurut Sarah rada-rada psychotic tapi gutsy itu, terekam sukses pada beberapa hasil jepretan Firman yang menangkap kilauan cahaya mata yang menantang. Kalau jepretan yang gagal, jangan ditanya jumlahnya.
Rasanya sulit bagi siapa pun yang menyaksikan photo session ini untuk tidak bertanya-tanya tentang apa yang terlintas dipikiran Sarah saat itu.
“Gua enggak nyaman kalau difoto,” ungkapnya secara kasual, sambil mengakui kalau imbalan yang didapat cukup membantu dirinya untuk bersikap profesional. Sarah memang bukan orang baru untuk urusan tampil di depan kamera, dan kelakuannya selama photo shoot kali ini merefleksikan pengalamannya yang segudang: datang tepat waktu, persiapan dan make-up yang ringkas, jeprat jepret tanpa basa-basi; dan hasilnya keren…
Ibaratnya nonton konser Muse tanpa tahu menahu kalau mereka itu trio, nonton musikal MK tanpa sedikit mengenal salah satu pemeran utamanya akan memperbasi suasana saat menyaksikan pementasan MK 24-27 Mei 2007 [jadwal terbaru].
Bagi orang kuper yang masih bingung kenapa ada orang Jepang main di produksi EKI, please deh, EKI bukan organisasi sembarangan, dan pemeran utama musikal MK bukan sepenuhnya asal Jepang.
Takako yang sering dipanggil Tata, adalah cewek campuran Jawa Jepang yang lahir tanggal 7 January 1972 di Surabaya. Tapi dari tingkah laku maupun wajahnya, tidak sedikitpun mengingatkan kita sama aura-aura sushi. Entah kalau sosok ini dikenali lebih dalam lagi, mungkin di rak dapur Tata bisa ditemukan teh hijau asli Shizuoka.
Cewek yang sekarang lagi single ini sudah memasuki dunia tari sejak usia 12 tahun. Tanda-tanda gemblengan bertahun-tahun bisa kelihatan dari figur badan Tata. Selama ini dia belajar dari beberapa penari senior seperti Rusdy Rukmarata, M. Supriyatin, Elly Rarantha dan A. Bachtiar, Chichi Kadijono dan Rudy Wowor.
Menari bukan satu-satunya keahlian Tata, yang mengaku sangat menyukai stage act. Artinya, dia juga bisa acting dan nyanyi. Sejak gabung di EKI tahun 1997, Tata mendapat gojlokan seni teater dari dalang edan Sujiwo Tejo dan pelajaran vokal Anette Frambach.
Dari segi pengalaman, enggak usah ditanya. Mulai dari Madam Dasima sampai Freakin’ Crazy You, Tata jadi penari utama EKI. Kemampuan acting juga sudah terbukti saat mentas di Lovers & Liars (2004).
Karena kemampuannya yang lengkap itu Tata terpilih sebagai pemeran tokoh Narcissi dalam musikal MK, seorang perempuan dari keluarga sederhana yang tegila-gila sama kesempurnaan, seorang social climber yang penuh ambisi.
Dalam kehidupan sehari-hari sulit bagi Tata untuk menapaki social ladder. Waktu yang dibutuhkan untuk bergaul habis dipakai latihan teater. Bagusnya dia merasa beruntung. EKI yang gaul itu sering mengajak pihak lain untuk ikut serta dalam event-event mereka, jadi Tata bisa kenalan sama banyak orang. Seperti produksi EKI kali ini, bintang tamunya antara lain Aida Nurmala dan Sarah Sechan, Ira Duaty dan Netta Kusuma Dewi. Dari cast pemeran utama MK, praktis hanya Tata dan Uli Herdinansyah yang masih dibawah naungan management EKI.
Tata terlihat menikmati kehidupan sebagai penari. Kecintaannya bermula ketika ayahnya sering mengajak Tata melihat balet klasik di laser disk, melototin Swan Lake, Sleeping Beauty, dan Giselle. Kedengaran agak geeky dan culun, tetapi ternyata pengetahuan Tata tentang Madonna juga cukup lengkap, membuatnya masuk golongan perempuan normal yang grow-up di tahun 80an.
Terus, sampai kapan mau menari? ”Sampai badan saya mengatakan ’Duh, gue udah ’gak sanggup lagi.’ Tapi kalau yang ditanya jiwa, saya akan terus menari, dan ’gak mau berhenti.” Demikian jelas Tata yang juga punya ambisi, mensosialisasikan pekerjaan menari sebagai sesuatu yang pantas diperhitungkan, dan dihargai sejajar dengan pekerjaan lainnya seperti guru atau dokter.
Mungkin karena cita-citanya yang tinggi itu Tata yang lebih dari 30 tahun, belum menikah. Tata sendiri mengaku kalau dia sama sekali tidak anti menikah. Statusnya yang saat ini single memang lebih karena sebagai pekerja seni dirinya dituntut dedikasi penuh 24 jam sehari. Sesuatu yang sulit dilakukan kalau sudah menikah.
“Kalau dia cinta sama karirnya dan hasil kerja dan karyanya bisa membuat bahagia banyak orang, why not?” komentar Tata memberikan sebuah alasan yang patut dihargai.
Kalau sampai puas nonton Miss Kadaluwarsa, tentunya kita tau dong kenapa?
Reportase: Wirya Kartasasmita
Seorang ibu, presenter dan mantan model, Ira Duaty pada musikal Miss Kadaluwarsa akan memainkan peran Bu Duko, ibu Narcissi. Wajah Femina 1987 ini disela latihan teater EKI menyempatkan diri bertemu dengan reporter blog MK, Wirya Kartasasmita.
WK: Pertama kali ditawari main teater EKI, gimana?
ID: Sebenarnya kan aku sudah sering naik di panggung, tapi memang belum pernah untuk menjadi pemain teater. Jujur saja, dulu sekali, memang aku sempat terpikir gimana kalau gue menjadi seperti dia ya? Pemain teater. Itu dulu sekali, sebelum saya jadi model. Gimana ya. Penjiwaan karakternya pasti susah ya. Jadi secara tidak sengaja aku disuruh main sama EKI. Waduh kebetulan sekali. Memang aku tidak berambisi sekali mau main di panggung. Tapi dengan tawaran ini, aku akan melakukan yang terbaik.. hahaha, kalau dipikir-pikir butuh waktu 20 tahun untuk mewujudkan apa yang dulu menjadi keinginan saya. Ternyata dunia acting sungguh menantang. Aku harus bisa menjadi orang lain tanpa aku menjadi orang lain.
WK: Yang susah di acting ini?
ID: Untuk peran ini kau harus memainkan dua emosi, sikap kepada bapaknya beda, sikap kepada anaknya beda. Ini sesuatu yang berbeda dengan keseharian. Beda banget. Tantangan buat saya. Kalau di keseharian aku bisa
kontrol. Kalau ini, kan beda. Ada yang datar banget, ada yang emosional banget.
WK: Ada karakter yang menjadi referensi?
ID: Sebenarnya aku gak ada artis yang menjadi referensi karakter ini, tapi aku pernah lihat aja, karakter orang seperti ini. Di keluarga sendiri juga ada yang punya karakter neurotik seperti ini. Karena pernah lihat, jadi ketika diarahkan, aku bisa ‘ngerti. Sesama pemainnya juga ‘ngalir, jadi lebih mudah.
WK: Di luar latihan, usaha untuk perdalam karakter?
ID: Aku memang ‘gak cari karakter yang ada di aktor lain, tapi aku coba terus saja, karakter-karakter ini di rumah. Kalau di rumah, yang melatih aku main teater malah anakku sendiri. Dia lebih hapal dialognya. Mungkin karena dia sering di art-I-art, sering main teater kali ya.

|  | Hi musical afficionados! Silahkan grab foto-foto official line-up cast inti musikal MK berikut.
Uli Herdinansyah - Ginekolog Fauzy Takako Leen - Narcissi Sarah Sechan & Aida Nurmala - Shiva*
*) Sarah dan Aida adalah bagian dari double cast MK, yang artinya, keduanya berperan sebagai Shiva, naik panggung bergantian tergantung harinya. Sering-sering cek jadwal pementasan untuk info paling terkhir tentang jadwal manggung mereka masing-masing.
|
Satu lagi mantan presenter Hard Rock FM Jakarta yang terpilih masuk jajaran cast drama musikal Miss Kadaluwara [MK]. Tetapi bagi Uli Herdinansyah sendiri, ini bukan pertama kali dia naik panggung teater garapan EKI Dance Company.
Sudah lebih dari setahun terakhir ini Uli keluar masuk kantor EKI di Jalan Padang, Manggarai. Salah satu alasannya adalah untuk latihan akting. Uli kemudian mengaku kalau EKI adalah tempat dimana dia pertama kali belajar akting.
Pengalaman naik panggung teater Uli yang pertama kali bersama EKI adalah ketika ikut pementasan Freakin’ Crazy You, Maret-April 2006 lalu. Saat itu Uli memerankan seorang pria penyabar penuh tanggung jawab yang bisa dijadikan sandaran bagi wanita mana saja. Pengalaman pertama itu tidak terus membuat dirinya yakin akan kemampuan berakting. Tetapi berkat dorongan pihak management EKI, Uli menjalankan peran tersebut dengan penuh komitmen.
Uli juga punya pengalaman sebagai penulis. Beberapa tahun lalu presenter infotainment ‘Insert’ ini pernah menjadi kontributor untuk majalah A+. Bakat menulisnya ini tidak dilewatkan begitu saja sama tim penulis naskah MK yang dipimpin oleh Aiko Senosoenoto. Untuk musikal MK bulan Mei nanti pun Uli memberikan andil yang tidak kecil sebagai salah satu tim penulis naskah.
“Kalau untuk MK ini sebenarnya kalau teman-teman dekatku baca, banyak sekali cerita yang mirip dengan kisah mereka. Dari temen-teman deketku buanyak banget karakternya yang sama,” demikian cerita Uli ketika diwawancara reporter Blog Miss Kadaluwarsa.
Uli lanjut menceritakan pengalamannya menunjukkan sebagian naskah yang dia tulis pada seorang teman dekatnya. Ketika membaca naskah scene tentang percakapan antara Narcissi [Takako Leen] dengan bapaknya, teman Uli itu berkomentar “karakter bokapnya kayak karakter bokap gue ya?”
Tetapi bagaimana dengan karakter Fauzy seorang Ginekolog yang nantinya akan diperankan Uli sendiri? Menurut bocoran pemuda 30 tahun ini, tokoh Fauzy juga didasari oleh karakter salah satu temannya yang secara sepihak dituduh segenap anak Jakarta sebagai seorang womanizer. Sedikit banyak hal ini bisa membantu Uli yang mengaku masih harus belajar bagaimana terlihat super cool dihadapan wanita yang tidak terbatas jumlahnya, seperti ginekolog Fauzy dan pasien-pasiennya [belum termasuk menghitung jumlah suster, office girl dan janitor perempuan yang ceritanya bekerja disitu].
Meski mengaku kalau dirinya masih tidak sehebat karakter Fauzy untuk urusan wanita, Uli setuju kalau dibilang bahwa ada banyak kesamaan antara dirinya dengan ginekolog tersebut. “Sama-sama childish, kurang tanggung jawab,” timpalnya mengakui sambil tertawa lebar.
Kekanak-kanakan Uli memang sering kita lihat. Gayanya membawakan program nighlife ‘Paranoia’ di O-Channel pasti mengingatkan kita akan hal tersebut. Belum lagi soal insiden enggak penting yang pernah kejadian seputar dirinya berkomentar tentang gosip yang dilaporkannya melalui program ‘Insert’ di Trans-TV.
Tapi kalau cowok single yang pernah tinggal di Aceh dan Belgia ini kita amati dari dekat, dedikasi dan kerja kerasnya selama setahun lebih dibawah naungan EKI harus diacungi jempol. Minimal satu jempol lah. Kan bukan tanpa usaha kalau dia akhirnya mendapat peran yang lebih berbobot di film yang bisa kita perdebatkan sebagai salah satu film Indonesia terbaik belakangan ini, yaitu ‘Naga Bonar jadi 2.’
Reportase oleh Renny Turangga
EKI Dance Company sudah cukup berpengalaman dalam mengundang berbagai bintang tamu untuk ikut melakoni peran-peran yang mereka ciptakan. Kesuksesan Freakin’ Crazy You tahun 2006 memberikan kepercayaan diri lebih buat para penggarap panggung teater EKI untuk terus bereksplorasi dengan orang-orang yang mungkin masih asing dengan teater.
Tahun ini EKI kembali menghadirkan produksi drama musikal berjudul Miss Kadaluwarsa [MK]. Pada awalnya, tim penulis naskah dan tim casting MK sempat memperhitungkan beberapa nama cewek beken buat diajak ikutan. Nama Sarah Sechan termasuk dalam pertimbangan tersebut. Dan pada akhirnya, Sarah terpilih menjadi salah satu pemeran utama.
“Sarah punya kharisma di panggung, dan karakter tersendiri yang masih bisa diolah,” ungkap Nanang Hape, salah satu seniman EKI yang ikut terlibat dalam mempersiapkan kapasitas acting para pemeran MK.
Peran yang dipercayakan kepada Sarah adalah tokoh bernama Shiva, seorang perempuan dari keluarga kaya yang merasa defisit perhatian, dan yang melampiaskan kesedihannya dengan cara-cara dingin.
“Karakter Shiva psychotic tapi gutsy [nyali],” ungkap Sarah menjelaskan tentang kenapa dia suka dengan perannya itu.
EKI sendiri menjadwalkan dua pementasan MK tiap harinya, dari 23 – 27 Mei 2007. Sebagai pemeran utama, tentunya tidak mudah tampil konsisten dua kali berturut-turut dalam sehari. Untuk itu, EKI memastikan kualitas performance para pemeran, dengan cara membagi casting menjadi dua bagian. Artinya akan ada dua orang yang memerankan Shiva bergantian tiap harinya. Dalam hal ini Aida Nurmala akan bergantian dengan Sarah untuk memainkan peran Shiva.
Waktu Sarah Sechan muncul sebagai VJ MTV Asia di akhir 90an menyusul suksesnya jadi pembawa acara di Hard Rock FM, dia sempat menyisakan impresi yang melekat kuat di pikiran orang. Yang dilihat orang waktu itu adalah cewek cantik ngocol yang lebih dari sekedar fun, lebih pintar dari sekedar cerdik, memiliki kemampuan berbahasa Inggris yang baik, dan rasanya sih seratus persen Indonesia. Di kanal teve asing pula.
Sejak masa itu sudah lewat sekitar lima tahunan. Cewek 32 tahun itu kini sudah berkeluarga, dan sesekali nongol sebagai presenter program-program rutin teve lokal, atau sebagai pembawa acara yang umumnya bertemakan anugerah film Indonesia. Media entertainment dalam negri pun mulai bertanya-tanya, kenapa Sarah jadi lebih sering memanggil orang lain naik ke panggung daripada sebaliknya?
Ada beberapa alasan mengapa film-film lokal belum pernah dibintangi Sarah, padahal dirinya sudah pernah berperan untuk sinetron televisi. Salah satunya jadwal yang bentrok dengan pekerjaan beberapa tahun lalu sebagai Wakil Pemred CosmoGIRL! Indonesia.
Tapi kalau ada orang-orang yang masih penasaran sama Sarah Sechan, mereka tidak sendirian. Para penggarap drama musikal Miss Kadaluwarsa [MK] produksi EKI Dance Company juga merasa penasaran dengan cewek yang satu ini.
Penggarapan naskah MK sudah dimulai hampir setahun lalu, dan sejak saat itu pula sudah mulai dibayangkan kira-kira siapa yang akan merealisasi isi naskah. Pada awalnya nama Sarah Sechan muncul lebih karena rasa penasaran tim penulis naskah dan tim casting MK. Setelah beberapa kali bertemu, sepertinya kepenasaranan itu berubah menjadi keyakinan dan Sarah pun terpilih.
Sarah mengaku kalau dia menyukai dunia teater maupun peran yang diberikan. Tetapi, mengingat ini kali pertama dia naik panggung teater, Sarah tidak mau takabur membayangkan masa depannya di dunia ini.
| |