Blog EntryShiva dan Kamera Firman IchsanApr 20, '07 5:28 AM
by dmitri for everyone

Ada banyak hal yang harus dipersiapkan aktor/aktris sebelum naik panggung. Sejauh ini cast Miss Kadaluwarsa [MK] sudah melewati beberapa jadwal latihan, termasuk latihan tari dan nyanyi, serta kegiatan photo session untuk mendukung promosi musikal MK.

 

Photo session Sarah diadakan di sebuah studio di pedalaman Fatmawati, di tengah jaringan jalan-jalan bernama sama yang dibedakan melalui angka-angka serial saja. Disana ada sebuah rumah yang dijadikan studio oleh salah seorang fotografer ternama Indonesia, Firman Ichsan.

 

Jalanan dalam kompleks perumahan di daerah selatan Jakarta itu tipikal memberi kesan berliku, dengan besi portal dan gubuk ronda di persimpangan, serta rumah-rumah berarsitektur tahun delapan puluhan di kiri-kanan jalan, sesekali didampingi tetangga yang sudah sempat renovasi. Kalau ditambah padatnya lalu lintas jalan Fatmawati, perjalanan menuju studio Firman itu rasanya berlebih sekali. Ngapain juga?

 

Studio Firman banyak menghasilkan karya-karya magis. Magisnya bukan karena Firman bisa menyulap sesuatu yang jelek jadi bagus [mungkin itu juga], tetapi karena maestro yang satu ini bisa dipegang untuk untuk urusan tidak mencelakakan object yang bagus. Selain itu juga, EKI butuh fotografer yang bisa menangkap ekspresi tertentu yang memang harus keluar, supaya karakter tokoh-tokoh MK bisa kelihatan. Apalagi kalau foto-foto itu bakal mengisi poster.

 

Sarah saat pemotretan terus melakoni muka centil judesnya Shiva, peran yang bikin dia semangat ikut musikal MK. Sarah mengilustrasikan karakter yang dimainkannya itu dengan sederhana: “Fiery.”

 

Firman rajin meminta object pemotretannya itu untuk mengulang beberapa pose, dan Sarah yang rela-rela saja dengan tekun menghitung jumlah jepretan yang diambil. Ekspresi-ekspresi Shiva, yang menurut Sarah rada-rada psychotic tapi gutsy itu, terekam sukses pada beberapa hasil jepretan Firman yang menangkap kilauan cahaya mata yang menantang. Kalau jepretan yang gagal, jangan ditanya jumlahnya.

 

Rasanya sulit bagi siapa pun yang menyaksikan photo session ini untuk tidak bertanya-tanya tentang apa yang terlintas dipikiran Sarah saat itu.

 

“Gua enggak nyaman kalau difoto,” ungkapnya secara kasual, sambil mengakui kalau imbalan yang didapat cukup membantu dirinya untuk bersikap profesional. Sarah memang bukan orang baru untuk urusan tampil di depan kamera, dan kelakuannya selama photo shoot kali ini merefleksikan pengalamannya yang segudang: datang tepat waktu, persiapan dan make-up yang ringkas, jeprat jepret tanpa basa-basi; dan hasilnya keren…


andreas78 wrote on Sep 27, '07
menurut saya teknik lighting yang di gunakan oleh bapak firman tidak sesuai dengan karakter2 di atas panggung. yang saya pantau selama ini photo2 mas firman pas di poster lighting na semua flat dan tidak interesting. dan teknik lighting yang di gunakan firman sangat2 simple dan itu tidak menunjukkan professional knp karena professional photographer harus memikirkan sebuah design photo yang menarik

www.creativetrees.com/andreas
andreas78 wrote on Sep 27, '07
achhh firman jepret2 tanpa basa basi.... itu boong dimana mana seorang professional photographer harus banyak basa basi supaya model yang dphoto tidak kaku. ach hasilna keren kayana nda dech.. malah hasil photonya flat. dan saya tau kalau mas firman hanya lulusan dari sekolah painting. yang saya tau mas fiman tidak ada basic photography. ini cerita cuman ngarang aja. dan dmn profesionalitasnya. anda memberikan kebohongan kepublik
andreas78 wrote on Sep 27, '07
my point of view that as a photographer should support the lighting technic to communicate the character as a client want. as a photographer has the same as a conducture that should be control the musician. as you know the conductor or musician want to make the audience boring, isn't it? i think firman ichsan is good, when he start to paint. unfortunetely, his photography is really boring light
dimushka wrote on Dec 22, '07
anda memberikan kebohongan kepublik
accusation yang menarik, Andreas78. kecuali anda Sarah Sechan sendiri, atau salah satu personil EKI (atau mungkin anda adalah dual personality-nya Firman Ichsan sendiri?) saya rasa anda gak bisa ngomong gitu deh. kecuali anda ikut dalam sessi ini, gak aci kalau ngomong begitu.

as in basic skills, siapa bilang itu jaminan sebuah hasil karya?

dan kalau soal yan lainnya, EKI memang meminta Firman karena dia BISA DELIVER permintaan EKI sebagai clientnya. that is professionalim.

kalau soal karya foto yang menggunakan teknik tinggi, bermakna dalam, ataupun bullshit seniman lainnya, well, dia gak perlu memakai pemeran Shiva untuk itu.

monggo. terima kasih buat jawabannya. kita tetap consider masukan anda.
andreas78 wrote on Feb 6
tentunya firman ichsan bukan termasuk orang yang mendalami photography karena basically dia seorang painter dan bukan seorang professional photographer. dalam dunia professional photographer yang calliber seperti iswanto, tigor siahaan mrk benar2 menjaga kualitas photo karena mereka mendalami pendidikan di photography. saya tidak peduli firman bekerjasama di eki or not. yang saya peduli adalah kualitas photography sebagai seorang professional. saya menganggap firman bukan seorang proffessional photography. kata seorang lecture berkata bila saya telah belajar pendidikan photography seharusna lebih hebat dari seorang professional photography yang tidak mendalami skill di photography
dimushka wrote on Feb 14
oh, ya, ya.. berarti andreas78 tidak jadi menuduh saya membohongi publik. kalau pendapat anda soal Firman, sih, fair-fair aja.

tapi Firman enggak kerja buat EKI, loh. kita beda institusi. kebetulan saja suka kerjasama. kalau Andreas78 punya skill photography dan mau berbagi sama EKI pasti bisa seru.
Add a Comment
   
Miss Kadaluwarsa
© 2008 Multiply, Inc.    About · Blog · Terms · Privacy · Corp Info · Contact Us · Help