Ada banyak hal yang harus dipersiapkan aktor/aktris sebelum naik panggung. Sejauh ini cast Miss Kadaluwarsa [MK] sudah melewati beberapa jadwal latihan, termasuk latihan tari dan nyanyi, serta kegiatan photo session untuk mendukung promosi musikal MK.
Photo session Sarah diadakan di sebuah studio di pedalaman Fatmawati, di tengah jaringan jalan-jalan bernama sama yang dibedakan melalui angka-angka serial saja. Disana ada sebuah rumah yang dijadikan studio oleh salah seorang fotografer ternama Indonesia, Firman Ichsan.
Jalanan dalam kompleks perumahan di daerah selatan Jakarta itu tipikal memberi kesan berliku, dengan besi portal dan gubuk ronda di persimpangan, serta rumah-rumah berarsitektur tahun delapan puluhan di kiri-kanan jalan, sesekali didampingi tetangga yang sudah sempat renovasi. Kalau ditambah padatnya lalu lintas jalan Fatmawati, perjalanan menuju studio Firman itu rasanya berlebih sekali. Ngapain juga?
Studio Firman banyak menghasilkan karya-karya magis. Magisnya bukan karena Firman bisa menyulap sesuatu yang jelek jadi bagus [mungkin itu juga], tetapi karena maestro yang satu ini bisa dipegang untuk untuk urusan tidak mencelakakan object yang bagus. Selain itu juga, EKI butuh fotografer yang bisa menangkap ekspresi tertentu yang memang harus keluar, supaya karakter tokoh-tokoh MK bisa kelihatan. Apalagi kalau foto-foto itu bakal mengisi poster.
Sarah saat pemotretan terus melakoni muka centil judesnya Shiva, peran yang bikin dia semangat ikut musikal MK. Sarah mengilustrasikan karakter yang dimainkannya itu dengan sederhana: “Fiery.”
Firman rajin meminta object pemotretannya itu untuk mengulang beberapa pose, dan Sarah yang rela-rela saja dengan tekun menghitung jumlah jepretan yang diambil. Ekspresi-ekspresi Shiva, yang menurut Sarah rada-rada psychotic tapi gutsy itu, terekam sukses pada beberapa hasil jepretan Firman yang menangkap kilauan cahaya mata yang menantang. Kalau jepretan yang gagal, jangan ditanya jumlahnya.
Rasanya sulit bagi siapa pun yang menyaksikan photo session ini untuk tidak bertanya-tanya tentang apa yang terlintas dipikiran Sarah saat itu.
“Gua enggak nyaman kalau difoto,” ungkapnya secara kasual, sambil mengakui kalau imbalan yang didapat cukup membantu dirinya untuk bersikap profesional. Sarah memang bukan orang baru untuk urusan tampil di depan kamera, dan kelakuannya selama photo shoot kali ini merefleksikan pengalamannya yang segudang: datang tepat waktu, persiapan dan make-up yang ringkas, jeprat jepret tanpa basa-basi; dan hasilnya keren…