Blog EntryMomen Magis: Love at First SightMay 2, '07 9:33 AM
by dmitri for everyone

Pada kenyataannya, kita tidak selalu menilai orang secara tulus tanpa terlebih dulu membuat kesan pertama kita terhadap orang itu. Buku-buku self improvement berklise ria mengingatkan kita kalau yang namanya pakaian itu penting, karena orang lain umumnya terpengaruh first impression, atau kesan pertama, dalam menilai sesama. Dan yang pertama dilihat biasanya sih cara berpakaian.

 

Kita bisa saja mengaku sebagai manusia sempurna yang tidak pernah menilai sampul buku orang lain. Tapi realita cinta dalam kehidupan rock ‘n roll metropolitan tidak bisa bohong sama naluri sendiri: bahwa yang namanya penampilan orang senantiasa mempengaruhi penilaian kita.

 

Namanya juga manusia. Kalau sudah mutih, puasa, semedi dan lepas dari segala nafsu duniawi, barulah kita mampu alert bertahun-tahun sama yang namanya fatalisme naluri harafiah. Kalau belum sih, selempak putih bermerek yang tersingkap celana jeans kedodoran bisa bikin kita pasang tampang judes seharian. Coba ketemu bos di kantor yang dandan begitu? Atasan sok asik seperti apapun bakal sulit kita anggap serius. Pemenang Nobel Prize sekalipun.

 

Nah, sebagai penonton Miss Kadaluwarsa [MK] kita tidak perlu mengerut dahi supaya bisa mengerti pesan-pesan rumit dibelakang sampul buku yang tebal. Lewat penataan artistik dan kostum Samuel Wattimena, kita diajak untuk relax, bebas membulatkan wajah yang seharian panjang ditarik sendi stress kemacetan Jakarta. Tidak perlu takut dituduh berpikiran macam-macam karena spontan membunyikan priwit pramuka saat melihat baju sexy yang dipakai Shiva.

 

Memang ada berbagai cara menikmati tontonan teater. Seperti laut, bisa dinikmati dari pantai, snorkelling di laut dangkal, scuba diving atau yachting di perairan lebih dalam. Untuk yang terakhir ini Sammy punya penjelasan sendiri, “teater/tari yang lebih bersifat klasik di mana diciptakan banyak ilusi-ilusi di atas panggung dengan set yang sangat minimal dan penonton ’dituntut’ untuk melihat apa yang ada pada imajinasi yang diciptakan pemain.”

 

Sammy mengaku kalau pertunjukan MK sifatnya populer. Penontonnya cenderung tidak mau berlelah-lelah membayangkan penggambaran suasana. Makanya dekorasi panggung dan kostum menjadi penting. Karena ”akan mempermudah penonton memahami pesan yang ada.”

”Seseorang yang memakai baju sederhana tak selalu berarti ia tidak berbobot. Begitupun sebaliknya,” ungkap Sammy dengan ideal. ”Populer saya artikan menjadi lebih mudah menyampaikan pesan, dapat menyebar dan diterima oleh lebih banyak orang sehingga menjadi lebih fungsional. Ada kecenderungan di sekitar kita mengenai pendidikan, di mana pendidikan hanya bisa didapat dengan cara membaca buku. Padahal ada berbagai cara lain untuk menggali ilmu. Bisa dari melihat alam, berjalan-jalan, dsb. Demikian juga dengan pemahaman bahwa sebuah pesan serius harus disampaikan dengan serius, dengan muka yang panjang.  Seolah-olah dengan begitu, pesan itu pasti sampai ke si penerima dengan benar.”

 

Sebenarnya, tidak ada salahnya menyukai kedangkalan. Yang dalam-dalam biasanya perlu keahlian khusus untuk dinikmati. Seperti menikmati laut lewat kegiatan menyelam, kalau sampai lupa daratan bisa berhalusinasi sendiri – narcosis [kayaknya semacam narcisis, begitu].

 

Samuel Wattimena punya pengalaman segudang untuk urusan perancangan busana, baik yang populer maupun yang niche. Mungkin dia tidak mengatakannya sama sekali, tapi sebenarnya kreatifitas Sammy lah yang akan mempengaruhi kesan pertama kita saat menonton MK.

 

Reportase: Frisca Saputra


novpar wrote on Jul 2, '07
punker abeeeeeeeeeeees jesss
Add a Comment
   
Miss Kadaluwarsa
© 2008 Multiply, Inc.    About · Blog · Terms · Privacy · Corp Info · Contact Us · Help