Pada awalnya sebuah pertunjukan teater dimulai dari keinginan orang untuk mengerti sesuatu yang bukan manusiawi. Lewat personifikasi hal-hal yang non-manusia, teater bisa memanusiakan roh-roh, binatang, dewa-dewi, sampai fenomena alam sekalian.
Selanjutnya, teater menjadi tempat manusia menilai diri sendiri. Secara umum, kita menilai sifat-sifat kita yang diwakili tokoh-tokoh di atas panggung. Dan secara personal, kita juga bisa mengenali cara kita bereaksi terhadap emosi yang muncul di panggung, jalan cerita, set audio visual panggung, musik, dan atmosfer di sekeliling kita.
Tidak banyak kegiatan yang pengalamannya sama mengesankan seperti nonton teater. Anda harus bisa merasakan detik demi detik yang tak terulangkan. Mulai dari masuk ruangan, duduk dengan kopi dalam paper cup di satu genggaman tangan, buku acara di genggaman satunya lagi, sambil menunggu tirai panggung tersingkap. Sulit bagi kita untuk lanjut menikmati kontras terang gelap panggung, bising sunyi musik dan tarian, maupun ekspresi dialog pemain, tanpa mengosongkan pikiran kita sebelumnya. Memang orang yang naik panggung bukan dukun shaman pemimpin api unggun di tengah hutan. Tapi kalau mau enjoy secara maksimal kita harus sama-sama mengijinkan mereka menghipnotis kita; semampu mereka.
Perhatikan contoh mata hipnotik seorang shaman pada foto disebelah kiri. Mata seorang performer sejati, Dalang Teredan Sujiwo Tejo.
Kemampuan menentukan suksesnya sebuah pementasan. Panggung kemudian berubah menjadi satu benda hidup penuh kesalahan, improvisasi, berikut kegagalan yang dicampuri berbagai emosi intens. Tidak terbatas pada kualitas director, actor ataupun tim teknis saja, entusiasme penonton ikut menentukan kesuksesan sebuah pergelaran teater.
Makanya, penonton pun harus bisa berekspresi sesuai jalan cerita. Tapi tidak semua bunyi itu menambah serunya tontonan. Misalnya bunyi handphone, batuk atau cegukan. Hindari membawa tas plastik ke dalam ruangan teater. Sumber suara paling spontan biasanya datang dari anak kecil dan bayi. Tentunya, mereka tidak harus melewati cobaan yang sama seperti orang dewasa, jadi enggak perlu diajak nonton.
Sebagai tamu di pertunjukan, seharusnya kita bisa memakai pakaian sesuka hati kita. Tapi yang namanya nonton bareng-bareng juga berarti memikirkan reaksi sesama penonton. Mungkin anda mengajak ibunda ke musikal MK dan dia datang memakai konde ukuran sensasional. Dampaknya akan sama sensasionalnya. Jadi, baiknya cara berpakaian tetap loyal sama individualisme kita tanpa berusaha menjadi bintang tamu yang gagal naik panggung teater. Kecuali anda hadir di Gala Premiere. Disitu semua orang wajib tampil, karena red carpet yang digelar sampai tempat parkir juga menjadi bagian dari panggung.
Tampil atau tidak, pastinya anda harus tepat waktu. Boleh hadir lengkap dengan syal bulu warna pink favorit, tapi kalau anda telat masuk, itu namanya kebangetan. Perhitungkanlah waktu perjalanan plus parkir yang dibutuhkan. Kalau ada meeting yang tertunda, ajak rekan meeting anda untuk ikut nonton. Bilang, untuk membuka wawasan dan tidak ketinggalan jaman. Bayarin kalau perlu, sebagai tanda peduli. Kalau pun terlambat, ada baiknya anda tidak heboh mencari tempat duduk gelap-gelap. Lebih baik berdiri di dekat pintu sambil menunggu dituntun panitia, atau waktu istirahat.